Pages

Selasa, 02 Oktober 2012

Tomo, 11 Tahun Setia Menjaga Maleo


KOMPAS.com/ RONNY BUOL
Tomo menemukan sebutir telur Maleo di lubang spot kedua. Dia lalu mencatat waktu ditemukan, memberi nomor dan menimbangnya.
MANADO, KOMPAS.com - Dulu Tomo Lumamay (46) adalah seorang pemburu telur Maleo. Kini, sudah 11 tahun dia mendedikasikan hidupnya menjadi penjaga Pos Penelitian Maleo di Muara Pusian yang dibangun Wildlife Society Indonesia Program (WCSIP) Sulawesi Utara. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tepatnya di Desa Pusian, Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow.

"Burung-burung liar itu sudah seperti peliharaan saya," kata Tomo, Kamis (27/09/2012) subuh ketika bersiap menuju spot pengamatan tempat Maleo bertelur di dekat bentaran Sungai Dumoga yang membela TNBNW.

Setiap pagi Tomo harus mengintai di bangunan pengintai yang dibangun oleh WCS. Lelaki berpostur kecil ini harus duduk diam berjam-jam tanpa banyak bergerak untuk menunggu datangnya Maleo bertelur. "Mereka sangat sensitif, jika tahu ada orang, burung itu akan langsung terbang," kata Tomo.

Dia melengkapi dirinya dengan sebuah tas kecil yang sudah agak lusuh. "Tas ini sudah cukup lama," katanya sambil tersenyum.

Dalam tas itu berisi, buku catatan, pena, serta alat timbangan. "Saya harus mencatat semua hasil pengamatan saya di buku ini," kata Tomo sambil memperlihatkan buku kecilnya.

Catatannya merupakan sebuah log yang sangat berharga. Selama 11 tahun, Tomo mencatat berapa ekor Maleo yang terlihat, berapa jumlah telur yang dilepas dan semua data yang berkaitan.

Seperti pada sore sebelumnya, Tomo menemukan sebutir telur Maleo di lubang spot kedua. Dia lalu mencatat waktu ditemukan, memberi nomor dan menimbangnya. "Ini merupakan telur yang ke 4.386.yang saya temukan sejak tahun 2001 saya dipercaya menjadi penjaga Maleo disini," ujarnya dengan wajah gembira.

Bersama dengan tiga butir telur yang didapatnya pada pagi hari, telur-telur itu lalu ditanamnya kembali di hatchery --tempat khusus penetasan yang sengaja dibuat oleh WCS. "Kami sengaja membuat semacam kandang yang dipagari dan dikunci untuk memproteksi telur-telur Maleo dari ancaman predator dan pencurian," ujar Iwan Honuwu yang menjadi Project Manager WCS Maleo Project.
Tomo hanyalah warga desa yang lulusan sekolah dasar tanpa pendidikan tinggi, tapi peduli dengan kelestarian salah satu satwa yang terancam kepunahannya
Sebab, jika tidak dipindahkan, telur-telur tersebut akan dimakan oleh biawak.

Burung Maleo yang ada di TNBNW merupakan jenismacrocephalon maleo yang dilindungi undang-undang konservasi karena populasinya terancam. "Jenis ini merupakan endemik Sulawesi. Populasinya terancam karena dulu telurnya diambil untuk dijual. Ukuran telurnya yang raksasa membuat nilai jual sebutir telur Maleo menjadi mahal," ujar Iwan.

Lewat Maleo Project yang diprakarsai oleh WCS IP Sulut, kini maleo-maleo tersebut punya penjaga sendiri. "Sehari dua kali saya harus datangi dua spot tempat maleo bertelur, di pagi hari dan kembali pada sore hari, karena di waktu-waktu itulah mereka datang bertelur," ujar Tomo.

Maleo merupakan burung khas yang ketika akan bertelur, sepasang Maleo akan mencari tempat yang bisa digali untuk mengubur telurnya. "Mereka akan mencari tempat yang bisa menghasilkan panas, karena mereka tidak mengerami telurnya," ujar Iwan.

Yang menarik, Maleo yang ada TNBNW memilih bertelur di spot yang ada karena kedekatan spot tersebut dengan panas bumi. "Hal itu terindikasi dengan uap yang keluar dari beberapa titik di air sungai. Kami menduganya, Maleo bisa mendeteksi keberadaan panas bumi," ujar Iwan menjelaskan.

Berbeda dengan jenis Maleo di tempat lain, Maleo yang ada di kawasan Pos Penelitian Muara Pusian milik WCS, menggali lubang yang cukup dalam, lalu meletakkan telurnya kemudian menimbunnya. Sementara jenis Maleo yang lain, menimbun telurnya dengan gundukan keatas.

"Yang jenis itu mengumpulkan panas dari kondensasi yang dihasilkan gundukan timbunan yang dibuatnya. Tapi Maleo di sini tahu persis bahwa pasir yang mereka pakai menimbun telur mengandung panas," jelas Iwan lagi.

Selain memonitoring dan mencatat, Tomo juga bertugas mengawasi dan mengamati tempat penetasan. Telur yang ditemukannya, ditanam kembali di haitchery. "Rata-rata dalam 64 hari, telur-telur itu akan menetas sendiri. Anak Maleo yang ditetaskan akan mengali sendiri lubangnya, lalu keluar ke permukaan tanah. Tugas saya melepaskannya kembali ke alam bebas," ujar Tomo.

Iwan menambahkan, dari catatan yang mereka miliki, dengan teknik perlindungan seperti ini tingkat keberhasilan penetasan telur mencapai 60 persen. "Kami sama sekali tidak menganggu proses alami siklus bertelur Maleo. Yang kami lakukan hanyalah memberikan proteksi, sebab jika tidak, ancaman predator sangat tinggi," jelas Iwan lagi.

Pengabdian Tomo terhadap pelestarian Maleo patut diberi apresiasi. Bersama istri dan lima orang anaknya, dia setia tinggal di tengah hutan Desa Pusian di bangunan kecil dan sederhana yang dibangun oleh WCS. "Saya bahagia menjadi bagian dari project ini," ujarnya.

WCSIP Maleo Project mensuplai kebutuhan hidup Tomo dan keluarganya. "Tidak banyak, tapi cukuplah bagi kami untuk tetap hidup," timpal istrinya yang setia mendampingi Tomo.

Tomo menceritakan pernah suatu waktu, suplai dana dari WCS sempat tersendat. "Saya dan istri terpaksa harus mencari sendiri kebutuhan hidup kami selama empat bulan. Tapi kami tetap setia dan semangat menjaga Maleo-maleo itu," ceritanya.

Apa yang sudah dilakukan oleh Tomo dan WCSIP menjadi contoh sebuah pengabdian kepedulian tindakan nyata terhadap konservasi kekayaan keanekaraman hayati yang kita miliki.

Tomo hanyalah warga desa yang hanya lulus sekolah dasar tanpa pendidikan tinggi, tapi peduli dengan kelestarian salah satu satwa yang terancam kepunahannya jika tidak dilindungi. 
Editor :
Glori K. Wadrianto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sumbalinga

"Saya tidak takut pada orang yang berlatih sekali untuk 10.000 tendangan, tapi saya takut pada orang yang berlatih satu tendangan sebanyak 10.000 kali"
Bruce lee